Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Kisah Sex Mani Ku Muncrati di Anus Meri
Aopok.com - Arul, yang sangat tampan itu tak mungkin seorang penyuka sesama jenis, pikirku. Lagipula dia sudah memiliki pacar, seorang wanita yang sudah sejak SMU dipacarinya, namanya Vita. Vita yang sekarang masih duduk di bangku SMU kelas tiga itu memang cukup cantik dan juga ‘berharta’. Menurutku mereka memang pasangan yang serasi. Mereka sering bermesra-mesraan didepan ku dan anak-anak, terutama Vita yang terlihat sangat tergila-gila pada Arul.
Memang arul tidak begitu antusias meladeni manjaan-manjaan Vita saat aku berada bersama dengan mereka, tapi itu tidak membuktikan apakah dia.. Tapi tingkahnya itu memang menggangguku. Juga sikapnya yang lain, seperti saat kupergoki ia sedang mencuri pandang kearahku ia langsung melihat kearah lain. Jadi kujalankan siasat untuk mengetesnya perlahan-lahan.
“Rul, gue balik sama lo yah!, lo kan bawa motor, rumah gue deket kok dari rumah lo!” Tanyaku sambil memasang wajah memelas.
“Ayo aja, tapi bensin lo yang bayarin yah!” Jawabnya sambil tersenyum.
“Gampang deh, asal servisnya memuaskan itu sih bisa diatur.” Jawabku tersenyum.
“Nggak kok, cuma bercanda!” Tambahnya tersenyum.
Sekarang aku lagi diboncengnya, duduk di jok belakang ‘Ninja’ ini dan hanya beberapa sentimeter dibelakang pria tampan ini, tentu saja takkan kubiarkan saat ini berlalu begitu saja. Kadang saat ia mengerem, ku condongkan tubuhku kepunggungnya sehingga tubuhku menempel dengannya. Atau saat ia mengajak ngobrol, kudekatkan wajahku dekat helm ‘Skater’-nya. Saat-saat seperti itulah dimana aku bisa merasakan aroma tubuhnya, suara lembutnya dengan jelas bergetar ditelingaku juga desahan nafasnya dileher yang membuat bulu kudukku merinding.
“Udah Rul, udah nyampe!” Akhirnya keluar juga kata yang sebenarnya tak ingin kuucapkan
“O, jadi ini rumahmu, ternyata rumah lo tuh deket banget sama rumah gue!”
“Lo kan udah tau rumah gue, kenapa lo nggak pernah maen ke rumah gue?”
“Wah sombong banget nih kayaknya nggak mau maen ke rumah gue!” Tanyanya.
“Bukannya gitu, tapi.. Emm..” Dia saja yang tak tahu kalau, sebeentar saja aku didekatnya sudah deg-degan apalagi kalau lama-lama dan cuma berdua saja.
“Iya deh entar kapan-kapan.” Jawabku
Terkait
“Udah entar malem aja lo ke rumah gue jam 8, ok!”
“Entar malam?”
“Iya, entar malam, bisa kan?”
“Ok deh eentar malem, jam 8.”
“Ya udah gue tunggu lo entar malem, awas kalau nggak dateng!”
“Ted, aku mau ke rumah temen gue dulu, ada perlu.” Ucapku.
“Tante mana?” Tanyaku.
“Lagi ke warung. Perginya lama nggak?” Tanyanya kemudian.
“Nggak lama kok.” Jawabku sambil berlalu.
Kini aku sudah berada tepat didepan pintu rumahnya. Kuketuk pintu rumahnya. Tok, tok, tok! Lanjut baca!
Viral! ABG vs Gigolo Bertarung Seks Anal
Tradingan.com - Jam sebelas lebih sepuluh. Itu artinya, sudah hampir satu jam aku dibuat menunggu oleh Michael. Aku tak habis pikir, ini sudah yang ketiga kalinya aku melayani anak bos itu, dan tiap kali selalu saja ia datang telat dari janji yang dibuatnya sendiri. Kalau dibilang ia segan menemuiku, sangatlah tidak mungkin, mustahil, kami saling menyukai, dia menyukai tubuhku dan aku menyukai uangnya. Kalau ia kapok, ia pasti tak akan “memanggil”-ku lagi, apalagi sampai tiga kali.
Tapi sebagai seorang pekerja yang baik, aku memang harus siap menghadapi pelanggan semacam Michael, aku tak boleh banyak protes. Aku pun ingin bekerja secara “profesional” seperti apa yang sering didengungkan oleh orang-orang yang duduk di kantoran. Kurasa, profesionalisme bukan hanya milik sebagian orang saja, seorang pekerja seks-pun pasti akan lebih laris kalau ia bekerja secara profesional. Benar tidak? Karena itu, aku menurut saja ketika kemarin malam, Michael memintaku datang jam setengah sebelas di hotel ini, tempat kami biasa check-in sebelum ini, sebuah hotel yang sewa kamarnya saja mencapai tarif 600 ribu semalam.
“Sudah lama nunggunya?” tiba-tiba Michael menepuk pundakku dari belakang sampil tersenyum padaku, memamerkan kedua lesung pipinya yang luar biasa menawan.
Michael memang remaja yang ganteng, aku akui. Sekilas, orang tak akan menyangka kalau orientasi seks-nya lebih kepada sesama laki-laki daripada kepada lawan jenisnya. Kulitnya putih dan badannya bersih, belum lagi bodinya yang ramping dan penampilannya yang sangat cool. Tak berlebihan, jika aku lantas mulai menyukainya juga, meski sebelumnya aku tak pernah benar-benar menyukai laki-laki. Aku sebenarnya terlahir sebagai lelaki normal, namun mungkin karena profesiku inilah yang terkadang menuntutku untuk melakukan “kontak” dengan lelaki, yang pada akhirnya membuat orientasi “seks”-ku menjadi kacau.
“Yah, lumayan lama juga nunggunya. Hampir satu jam. Kenapa telat?” tanyaku seraya bangkit dari sofa di lobby hotel, tempat aku menunggu sejak satu jam yang lalu. Kami lantas berjalan beriringan mendekati meja resepsionis untuk selanjutnya menuju sebuah kamar di lantai tiga yang sudah di-booking Michael.
Terkait
“Sorry, aku baru pulang clubbing.” sahut Michael sambil merangkulku. Sudah biasa, kalau remaja kota seumuran Michael yang masih kelas 2 SMU sering menghabiskan waktunya keluyuran bersama teman-temannya, ia selalu menyebutnya “clubbing”. Entahlah, apa saja yang mereka lakukan di luar sana, aku tak begitu peduli, lagipula itu bukan urusanku.
Ketika kami berdua menyusuri lorong lantai tiga, Michael tampaknya sudah mulai tak sabar melepaskan hasratnya, ia merangkulku lebih erat. Kali ini bukan di pundak, namun di pinggangku. Dan tangan kirinya yang mulai gatal, mengelus-elus perutku. Sesekali ia menciumi lengan dan leherku. Untung saja, lorong hotel itu begitu sepi dan tak ada, lanjut baca!
Viral! Aku di Gangbang Anal Paman dan Mas Heru
Iklans.com - Kisah ini baru saja aku alami saat sedang berlibur sekolah di rumah pamanku, yaitu pada awal Juli 2003, pada liburan sekolah tadi aku berlibur kerumah pamanku, namun sampai disana ternyata yang ada hanya pamanku sendiri, sementara istri dan sepupuku pada berlibur kerumah nenek. Pada suatu hari seperti biasa sehabis aku jalan-jalan aku langsung berniat mandi sore karena jam telah menunjukan pukul 17:45, namun saat aku melintas didepan kamar pamanku aku mendengar suara-suara rintihan bercampur dengan desahan laki-laki, karena rasa penasaran aku mencoba mengintip dari lubang kunci kamar yang mana ternyata pintu itu tidak terkunci, akhirnya perlahan aku buka sedikit pintu kamar itu.
Alangkah terkejutnya aku, betapa tidak didalam kamar kulihat Mas Wanto (nama samaran) begitulah biasanya aku memanggil Pamanku dalam keadaan telanjang bulat sedang dicumbui oleh Mas Heru teman pamanku yang juga seorang Pilot salah satu maskapai penerbangan nasional, kulihat dengan jelas Mas Heru begitu ganasnya mencumbui pamanku yang terlihat pasrah terhadap perlakuan Mas Heru terhadap dirinya, ingin aku beranjak dari situ namun rasanya berat sekali, dan ternyata tanpa kusadari semakin lama aku melihat percumbuan Pamanku dan Mas Heru akupun mulai terangsang, kurasakan penisku mulai bangun dan panas.
Akhirnya aku putuskan untuk pergi dari situ dan mandi, selesai mandi aku terus terbayang kejadian yang baru seumur hidup kulihat, pikiranku terus melayang tak karuan, aku memutuskan untuk tidur saja setelah menutup semua pintu dan jendela, namun pada jam 21:15 aku terbangun, entah kenapa aku langsung melangkah menuju kearah kamar pamanku yang dari sore belum ada yang keluar kamar, perlahan kubuka pintu kamar itu, kulihat Pamanku lelap tidur dengan hanya memakai kaos singlet dan celana jeans, sedang Mas Heru tertidur dalam keadaan telanjang dan hanya menggunakan selimut saja, melihat keduanya terlelap timbul pikiranku untuk mencoba masuk kamar itu.
Terkait
Perlahan aku masuk kamar dan berdiri memandangi Pamanku dan Mas Heru yang lelap tertidur, memang kuakui kedua pria ini sama-sama ganteng dan menawan dengan kulit mereka yang putih bersih hingga menambah ketampanan mereka, lebih-lebih Mas Heru yang seorang Pilot, dagunya yang kebiru-biruan bekas cukuran benar-benar menyiratkan kejantanan yang luar biasa, dadanya yang putih dengan bulu lebut serta puting susunya yang merah membuatku tidak dapat menahan nafsuku, perlahan kubuka selimut yang menutupi tubuh Mas Heru, begitu melihat tubuh Mas Heru yang terlentang dalam keadaan telanjang bulat aku tak dapat menguasai diri lagi, perlahan aku elus kontolnya yang masih belum ngaceng, tanganku gemetaran saat itu, karena ini adalah pertama kali aku mengelus kontol seorang laki-laki yang sudah dewasa, aku tak perduli jika nantinya Mas Heru bangun karena ulahku, kemudian aku usap jembutnya yang hitam dan lebat, dapat kurasakan sisa-sisa air mani yang masih menempel pada rambut kemaluan Mas Heru, lalu aku mulai beranjak menjelajahi tubuh Mas Heru dengan bibir dan lidahku, kujilati perut dan dada bidang Mas Heru. Lanjut baca!
Ayah Tiri Masuk Anus Lewat Belakang
Cerita Ngentot Anal dan Memek Mbak Titis Super Montok 2
Tradingan.com - Sesampai di dalam rumah aku tidak menemukan siapa pun. Dimana Mbak Titis, pikirku. Kulangkahkan kakiku ke ruang tengah. Kosong juga. Wah, di mana nih. Perlahan aku berjalan ke dapur sambil berharap cemas. Kalo udah pada tidur ya aku pulang aja. Sampai aku dikejuntukan oleh sepasang tangan yang melingkar dipinggangku dari belakang.
“malam ini temenin Mbak ya”, terdengar bisikan di telingaku.Tanpa basa-basi aku segera memutar tubuhku dan di depanku telah berdiri Mbak Titis dengan paras yang sangat cantik. Wajah Mbak Titis persis di depanku. Hidungku nyaris bersentuhan dengan hidung Mbak Titis. Terasa hangat di wajahku ketika Mbak Titis menghembuskan nafas. Aku benar-benar dibuat terpesona.
Mbak Titis sudah berganti pakaian dengan kimono warna pink. Matanya sayu menatapku. Entah keberanian dari mana yang mendorong wajahku sehingga bibirku mengecup lembut bibir Mbak Titis. Tidak ada perlawanan dari Mbak Titis. Bibirku terus bermain di bibir Mbak Titis beberapa lama. Kurasakan tangan Mbak Titis meremas lembut kemejaku. Aku mencoba melingkarkan tanganku di punggung Mbak Titis. Kuusap perlahan punggungnya sambil terus memainkan bibirku. Lidahku mulai menerobos masuk ke dalam mulut Mbak Titis. Bibir Mbak Titis lembut sekali, wangi dan itu membuatku semakin bernapsu.
Lidahku semakin liar bermain. Kuciumi lagi bibirnya, hidungnya, matanya, keningnya, pipinya, dagunya. Dan semuanya terasa lembut. Napas Mbak Titis semakin memburu. Tanganku bergerak ke bawah mencari2 tali kimono. Setelah ketemu, kuloloskan talinya pelan. Ketika berhasil kulepaskan, kimono tersebut merosot sedikit menjuntai ke lantai.
Kumundurkan tubuhku dan nampaklah pemandangan yang sangat indah yang sering kubayangkan selama ini. Mbak sudah tidak memakai bra dan cd. Payudara yang selama ini hanya ada dalam imajinasiku kini terpampang jelas di hadapanku. Tampak puting yang kecil berwarna coklat dan merah muda pada ujungnya. Bener-bener sesuai ama yang kuharapkan. Payudaranya kecil, mungkin ukuran 34a. Tapi aku suka banget ama yang segitu.
“Dimas Kenapa berhenti?”, ucapnya lirih seraya matanya yang sayu memandangku. Tanpa pikir panjang kuhampiri Mbak Titis dan berlutut di depannya. Aku membungkuk dan mencium lembut jari kaki sebelah kirinya sementara tangan kananku membelai lembut betis kanan Mbak Titis. Yang kudengar saat itu hanya lenguhan nikmat dari Mbak Titis. Kudongakkan kepalaku menatap Mbak Titis. Mbak Titis hanya menatapku sayu dengan nafas yang memburu. Kuarahkan perhatianku lagi ke bawah. Kuciumi lagi kaki kiri dan kanan berganti sementara tanganku mengusap lembut betisnya. Mbak Titis terus mendesis sampai suatu saat Mbak Titis hampir terduduk karena menahan kenikmatan dari ciuman dan belaian di betisnya.
Aku bangkit dan kusandarkan tubuh Mbak Titis di tembok dapur dengan posisi tubuh berdiri. Aku berlutut lagi dan kini yang menjadi sasaranku adalah pahanya. Kuciumi pelan paha kanan Mbak Titis. Tangan kanan Mbak Titis mencengkeram tembok. Kuciumi terus mulai dr atas lutut sampai mendekati pangkal pahanya. Tercium aroma yang membuatku semakin mabuk asmara ketika menciumi sekitar pangkal paha. Mbak Titis berusaha mengatupkan pahanya tapi aku menahannya dengan kedua tangan supaya tetap terbuka. Ciumanku pindah ke paha yang kiri sementara tangan kananku bergerak ke atas ke wilayah perut dan mengusap pelan dengan ujung jariku. Mbak Titis semakin mendesis tidak karuan.
“Oh… Mas… Shh… sh…”
Terkait
Ciumanku terus naik mendekati pangkal pahanya. Dengan gerakan sedikit menyentak kurenggangkan lagi paha Mbak Titis.
Oughhh… Mbak Titis melenguh panjang menerima perlakuanku yang tiba2. Kupandangi sejenak gundukan di depanku. Jembutnya lebat sekali dan baunya wangi. Sambil tetap memegangi kedua lutut Mbak Titis, kujulurkan hidungku menyapu jembutnya. Tubuh Mbak Titis bergetar menerima sapuan hidungku. Tampak samar belahan daging dan kucoba menjilat pelan membelah hutan jembut yang lebat itu. Lanjut baca!
Cerita Ngentot Anal dan Memek Mbak Titis Super Montok 1
Aopok.com - Namaku Dimas. Aku tinggal di kota jogja. Ceritaku ini terjadi pada tahun 2001. Pada waktu itu aku masih kuliah di sebuah PTN terkenal di jogja. Aku ambil cuti kuliah untuk bekerja di sebuah radio swasta yang baru berdiri. Waktu itu aku bekerja sebagai kru produksi. Pekerjaannya sangat sederhana yaitu merekam lagu, membuat iklan radio, dan mempersiapkan segala hal yang sifatnya off-air. Pemilik radio itu namanya Bapak Damian. Dia mempunyai istri yang sangat cantik. Aku biasa menyebutnya dengan Ibu Titis.
Ibu Titis tingginya kira-kira 170cm, bahkan lebih tinggi dari suaminya. Ibu Titis bekerja di sebuah perusahaan swasta di jogja. Sejak pertama kali masuk kerja di radio itu, aku udah kepincut dengan Ibu Titis. Ibu Titis ini berparas sangat cantik, mungkin sensual. Tinggi kira-kira 170cm, berat 50kg. Payudaranya tidak besar, sama sekali tidak besar. Tapi justru payudaranya yang kecil itu yang membuatku sangat penasaran. Aku selalu terobsesi dengan payudara yang kecil.
Ibu Titis suka memakai pakaian yang seksi. Baju-bajunya selalu tanpa lengan dan sering memakai rok yang sedikit di atas lutut. Pernah suatu ketika, aku sedang santai di kantor karena tidak ada order pembuatan iklan. Aku hanya duduk di balik meja marketing. Ibu Titis baru pulang dari kantornya. Aku perhatikan beliau turun dr mobil dan ketika melintas di dekatku
“Selamat siang, Bu. Jam segini kok udah pulang Bu?”, sapaku.
Ibu Titis tersenyum.
“Iya Mas. Ini mau nganter Bapak ke Bandara.”
Aku seketika merasa senang. Terus terang, aku ga suka ama bosku. Bawaannya cerewet mulu. Tapi aku mencoba bersikap biasa aja.
“Oh, rapat lagi ya bu di Jakarta?”, tanyaku asal-asalan.
“Iya, Mas. Mau nyelesein urusan frekuensi katanya.” Ibu Titis menjawab sambil berlalu dengan meninggalkan senyum yang sangat manis.
Tak berapa lama, Pak Damian dan Ibu Titis keluar dari rumah membawa beberapa koper.
“Mas, nanti malam jangan lupa matiin pemancarnya ya.”, pesan Pak Damian padaku. “Siap Pak”, jawabku sambil berlagak kayak prajurit.
“Hati2 pak”, sambungku lagi. Setelah beliau berdua pergi, aku masuk lagi ke ruang operator untuk ngecek properti. Iseng aja si benernya. Abis di kantor lagi sepi. Marketingnya pada keluar semua. Yang ada cuma 1 penyiar yang lagi bertugas, ama aku doang. Abis itu aku duduk lagi di meja marketing.
Selang 1 jam, Ibu Titis udah nyampe lagi di studio. Waktu ngliat, Ibu Titis cantik sekali. Bajunya merah berkerah agak rendah dan memakai kulot. Aku langsung kesengsem abis. Ibu Titis ga langsung masuk ke rumah tapi mampir dulu ke studio. Melihatku duduk Ibu Titis bertanya apakah semua order iklan sudah selesai.
Terkait
Aku jawab aja udah. Kupikir abis nanyain Ibu Titis langsung masuk ke rumah eh ternyata malah nyamperin ke mejaku. Pas nyampe di depanku, Ibu Titis meletakkan sikunya di meja dan meraih majalah yang ada. Posisi tubuhnya membungkuk di depanku. Seketika gaunnya terbuka sehingga aku dengan jelas melihat payudaranya yang kecil terpampang di depan mataku.
Ya ampun, ternyata ada juga payudaranya. Tanpa ba bi bu, penisku langsung berdiri. Pemandangan ini yang selalu kutunggu. Payudaranya masih tertutup beha putih tapi itu sudah cukup untuk membangkitkan penisku. Lanjut baca!





No comments :
Post a Comment
Leave A Comment...